Perjuangan Generasi
Kedua Pekebun Berbuah Sertifikat Roundtable Sustainable Palm Oil (RSPO)
Oleh Dani Rahadian
P Hidayat
Koperasi Unit Desa (KUD) Makarti
Desa Sido Mukti, di Muaro Jambi, memang tidak jauh berbeda dengan koperasi
lainnya. Hanya saja generasi kedua pekebun ini memiliki wawasan yang lebih maju
kedepan. Bagaimana mencari inovasi untuk
menghadapi tantangan usaha produksi buah kelapa sawit yang semakin ketat.
Sufyan Sahuri, sudah di daulat
menjadi manajer kelompok sertifikasi KUD Makarti. Sarjana lulusan Universitas
Islam Negeri Sunan Ampel, Jurusan Pengembangan Masyarakat Islam ini memiliki
tantangan yang cukup besar. Membawa seluruh anggota Makarti melakukan perubahan
cara berproduksi buah kelapa sawit menjadi berkelanjutan.
“Tidak gampang cuman harus
dilakukan” tegasnya lantang. Tentu saja bagi generasi kedua dan harus
berhadapan dengan pemilik kebun yang sudah berumur bukan hal yang nyaman.
Meskipun Pendidikan lebih tinggi namun pada kelompok masyarakat yang memiliki
adat timur, senioritas adalah ukuran kewibawaan.
“Kami mau mempersiapkan tambahan
modal untuk peremajaan sawit kami yang sudah tua” Ujar Sufyan saat berdiskusi
dengan petugas lapangan SNV (Lembaga Pembangunan Belanda), Saya, Adhe dan
Tohir. Meskipun waktu peremajaan masih lima
tahun lagi tetapi Sufyan merasa persiapan harus mulai dilakukan. Terutama
persiapan modal uang, “ Bagaimana rasanya, kehilangan sumber penghasilan kala
pohon sawit kami ditumbang semua” tambahnya lirih.
Skema sertifikasi RSPO (Roundtable
Sustainable Palm Oil) adalah sebuah pilihan bagi KUD Makarti untuk usaha
mendapatkan modal tambahan. Ada skema penjualan sertifikat tanpa perlu
terhubung dengan pabrik. Book and Claim, dimana kelompok sertifikasi
seperti KUD Makarti dapat menjual secara langsung lembaran sertifikat kepada
pembeli - yang umumnya industri manufaktur – tanpa harus menyertakan fisik buah
serta minyak kelapa sawitnya.
Dengan skema Book and Claim,
KUD Makarti masih bebas menjual buah kelapa sawitnya kepada pabrik mana saja.
Namun mereka juga dapat menjual kertas sertifikatnya kepada industri
manufaktur. “Untuk saat ini harga sertifikat RSPO dari petani swadaya masih
lumayan” Ujar Adhe, ditengah diskusi kami.
Namun seperti KUD Marga Jaya yang
sudah terlebih dahulu mendapatkan sertifikasi RSPO, KUD Makarti pun harus bisa
mandiri mempersiapkan pemenuhan standar RSPO. Mulai modal dan pendanaan, dan
pelaksanaan adopsi praktek Perkebunan berkelanjutan. Semua harus mandiri, dalam
hal ini Sufyan yang harus memimpin semua prosesnya.
“Kami akan tetap bantu, akan
tetapi tim Internal Control System (ICS) - unit kerja dibawah koperasi
yang tugasnya memastikan seluruh anggota memenuhi standar RSPO atau kontrol
kualitas internal - KUD Makarti yang harus aktif mengerjakan” sambung Tohir
lagi. Kami semua mengangguk, memang tidak mudah bagi generasi kedua pekebun
untuk menggerakan pekebun senior untuk melakukan perubahan. Terlebih lagi
seluruh kegiatan atas dasar gotong royong.
Untuk biaya audit ada RSPO
Smallhoder Support Fund (RSSF) yang dapat menolong KUD Makarti. SNV akan
membantu menuliskan usulan proposalnya. “Pemenuhan aspek legalitas kami bantu
juga untuk berkoordinasi dengan instansi pemerintah terkait di Sengeti” sambung
Tohir. Kami semua merasa sudah siap untuk memulai proses pemenuhan standar RSPO
meskipun inisiasi berasal dari generasi kedua pekebun.
“Kami akan mulai dengan
sosialisasi RSPO kepada seluruh anggota KUD Makarti” ujar Sufyan. Memang,
sosialisasi dan berkomunikasi dengan anggota koperasi, untuk meyakinkan mereka
mau bergabung dengan kelompok sertifikasi tidaklah mudah. “Apa untungnya untuk
kami” itu merupakan merupakan pertanyaan sebagian besar anggota koperasi.
Menggerakan pengurus Internal Control
System (ICS) untuk bekerja royongan dan meyakinkan anggota koperasi untuk
bergabung kelompok sertifikasi sama menantangnya. Kembali, Sufyan harus memutar
otak dan menguji strategi untuk menghadapi itu semua. Karena waktu terus
berjalan dan rodapun harus berputar, maju terus tidak boleh ragu, itu prinsip
untuk menarik gerbong besar berjalan menuju perubahan.
Selanjutnya seperti biasa, SNV
menggunakan jurus magic three pelatihan penyadar tahuan (awareness)
lalu pendampingan penyerapan (diffusion) dan penerapan (adoption).
Praktek perkebunan yang baik dengan metode High Impact Training
(pelatihan dengan dampak tinggi), Kawasan bernilai konservasi tinggi, lalu
penilaian dampak sosial ditambah lagi pembentukan tim unit semprot (tim yang
mampu menggunakan bahan kimia secara aman). Seluruh proses perubahan ini akan
selalu mengajak pelibatan aktif pengurus ICS KUD Makarti sebagai sarana
penggemblengan agar mempercepat proses adopsi.
Setelah dilakukan pemeriksaan
internal terhadap seluruh anggota koperasi dan dirasa siap, akhirnya pengurus
ICS Makarti memberanikan diri untuk mengontak badan sertifikasi British
Standard International (BSI) untuk melaksanakan pemeriksaan standar RSPO
petaniswadaya, lalu ditetapkan tanggal pemeriksaan. “Mulai tanggal 7 sampai 9
Januari 2020 kita akan diperiksa” ujar Sufyan seraya menunjukkan surat
elektronik dari BSI. “Cuman Adhe ada halangan tidak bisa mendampingi pemeriksaan”
sambung Tohir. Kami semua terdiam, persiapan harus digesa, waktu tersisa hanya
sedikit.
“Kita minta bantuan Rudi
Zariansyah biar dia ikut terlibat persiapan” timpal saya. “Boleh juga tuh”
sambung Tohir. Rudi merupakan petugas lapangan SNV yang berkantor di Kabupaten
Banyu Asin Sumatera Selatan. Jarak antara kantornya dengan KUD Makarti sekitar
10 jam perjalanan memakai kendaraan roda empat. Setelah kami menyepakati, Rudi
akan tiba di KUD Makarti untuk membantu persiapan dan audit.
Hari pelaksanaan auditpun tiba,
seperti biasa seluruh pengurus ICS sudah siap menanti kehadiran tim pemeriksa. Ada
3 penilai melaksanakan tugasnya. Seluruh
pemeriksa memiliki kekhususan masing-masing, dengan acuan indikator yang tertulis
di standar RSPO, pemeriksa mengukur proses pelaksanaan praktek berkelanjutan
yang sudah dilaksanakan oleh anggota Makarti.
Hari pertama, pemeriksaan seluruh
dokumen. Lalu hari kedua penilaian ke kebun yang terpilih secara acak, dan hari
ketiga pemeriksaan yang masih kurang dan penutupan. Runutan kegiatan pemeriksaan
yang harus dihadapi oleh pengurus ICS cukup menguras fisik, pikiran dan mental
mereka.
“Ya ampun ada 4 temuan ketidak
sesuaian mayor kemaren” Sergah Rudi lesu.”Seorang pekebun yang terpilih diperiksa
belum melengkapi penggunaan bahan kimia sesuai prosedur” sambung Tohir lagi.
Padahal sesuai hasil pemeriksaan internal oleh ICS, temuan itu harus sudah
diperbaiki karena memang diminta manajer kelompok.
Akhirnya rapat penutupan dilaksanakan,
hasilnya adalah BSI harus kembali melakukan penilaian ulang (verifikasi). “Jadi
kami belum lulus?” Tanya Sufyan getir. “Belum, kami harus lihat tindakan
perbaikan atas temuan kemaren”jawab petugas pemeriksa. Wuuih, tugas Sufyan belum
berakhir, sebagai orang muda generasi kedua pekebun dan sekarang harus memandu
para senior untuk kembali bekerja royongan.
Kepalang basah nyebur sekalian, guman
Sufyan.”Kita maju terus sertifikat harus dapat, tinggal selangkah lagi” teriak
Sufyan di depan rapat evaluasi pengurus ICS seraya mengepalkan tinjunya. BSI
akan melakukan pemeriksaan ulangan dengan tanggal 12 dan 13 Februari 2020 dan
KUD Makarti harus siap.
Mempersiapkan pemeriksaan ulang
seperti menghadapi ujian ulang karena nilai belum mencukupi. Dikala fisik dan
mental sudah terkuras untuk mempersiapkan pemeriksaan pertama. Sekarang setrum
tenaga dan motivasi pengurus ICS harus di isi ulang supaya energi kembali terang
benderang.
Tohir dan Rudi saya tugaskan
untuk ke Sumatera Selatan, kembali mendampingi pekebun disana. Adhe sudah kembali
siap bertugas, sehingga pada saat pemeriksaan ulangan hanya dia sendiri yang
akan mendampingi. Akan tetapi kali ini pengurus ICS KUD Makarti sudah lebih dari
siap untuk menghadapi pemeriksaan ini.
Seperti yang sudah dijanjikan,
hanya seorang petugas pemeriksa dari BSI yang bertugas. Kali ini pengurus ICS
lebih siaga dan bergerak lebih cepat. Runutan pemeriksaan dilalui dengan tegar
dan sabar meskipun mengulang terasa lebih berat bebannya.
Waah leganya, perjuangan generasi
kedua pekebun di desa Sido Mukti berbuah hasil. Meskipun jalannya berliku namun
tekad dan motivasi dapat mengalahkan terjalnya jalan untuk merubah praktek
pekebun dari praktek konvensional menjadi berkelanjutan sesuai dengan standar
RSPO. Kelulusan pemeriksaan dari badan sertifikasi independent adalah sebuah
bukti nyata.
“Perjuangan belum berakhir
teman-teman” ujar saya di hadapan Adhe, Tohir dan Rudi “Ini baru permulaan
saja, KUD Makarti harus mampu mempertahan praktek berkelanjutan mereka
kedepannya”. Tantangan utama saat ini sertifikat RSPO harus segera laku terjual
supaya jerih payah pengurus ICS segera terlunasi. Namun kami tidak khawatir
dengan kemampuan ICS KUD Makarti, mereka sudah membuktikan tanpa bantuan penuh
dari para pendamping, pengurus ICS mampu berusaha secara mandiri untuk mempersiapkan
dan menghadapi pemenuhan standar dan pemeriksaan sertifikasi RSPO. Selamat KUD
Makarti!



Tidak ada komentar:
Posting Komentar