Minggu, 16 Februari 2020


Perjuangan Generasi Kedua Pekebun Berbuah Sertifikat Roundtable Sustainable Palm Oil (RSPO)

Oleh Dani Rahadian P Hidayat

Koperasi Unit Desa (KUD) Makarti Desa Sido Mukti, di Muaro Jambi, memang tidak jauh berbeda dengan koperasi lainnya. Hanya saja generasi kedua pekebun ini memiliki wawasan yang lebih maju kedepan. Bagaimana mencari  inovasi untuk menghadapi tantangan usaha produksi buah kelapa sawit yang semakin ketat.

Sufyan Sahuri, sudah di daulat menjadi manajer kelompok sertifikasi KUD Makarti. Sarjana lulusan Universitas Islam Negeri Sunan Ampel, Jurusan Pengembangan Masyarakat Islam ini memiliki tantangan yang cukup besar. Membawa seluruh anggota Makarti melakukan perubahan cara berproduksi buah kelapa sawit menjadi berkelanjutan.

“Tidak gampang cuman harus dilakukan” tegasnya lantang. Tentu saja bagi generasi kedua dan harus berhadapan dengan pemilik kebun yang sudah berumur bukan hal yang nyaman. Meskipun Pendidikan lebih tinggi namun pada kelompok masyarakat yang memiliki adat timur, senioritas adalah ukuran kewibawaan.

“Kami mau mempersiapkan tambahan modal untuk peremajaan sawit kami yang sudah tua” Ujar Sufyan saat berdiskusi dengan petugas lapangan SNV (Lembaga Pembangunan Belanda), Saya, Adhe dan Tohir.  Meskipun waktu peremajaan masih lima tahun lagi tetapi Sufyan merasa persiapan harus mulai dilakukan. Terutama persiapan modal uang, “ Bagaimana rasanya, kehilangan sumber penghasilan kala pohon sawit kami ditumbang semua” tambahnya lirih.

Skema sertifikasi RSPO (Roundtable Sustainable Palm Oil) adalah sebuah pilihan bagi KUD Makarti untuk usaha mendapatkan modal tambahan. Ada skema penjualan sertifikat tanpa perlu terhubung dengan pabrik. Book and Claim, dimana kelompok sertifikasi seperti KUD Makarti dapat menjual secara langsung lembaran sertifikat kepada pembeli - yang umumnya industri manufaktur – tanpa harus menyertakan fisik buah serta minyak kelapa sawitnya.

Dengan skema Book and Claim, KUD Makarti masih bebas menjual buah kelapa sawitnya kepada pabrik mana saja. Namun mereka juga dapat menjual kertas sertifikatnya kepada industri manufaktur. “Untuk saat ini harga sertifikat RSPO dari petani swadaya masih lumayan” Ujar Adhe, ditengah diskusi kami.

Namun seperti KUD Marga Jaya yang sudah terlebih dahulu mendapatkan sertifikasi RSPO, KUD Makarti pun harus bisa mandiri mempersiapkan pemenuhan standar RSPO. Mulai modal dan pendanaan, dan pelaksanaan adopsi praktek Perkebunan berkelanjutan. Semua harus mandiri, dalam hal ini Sufyan yang harus memimpin semua prosesnya.

“Kami akan tetap bantu, akan tetapi tim Internal Control System (ICS) - unit kerja dibawah koperasi yang tugasnya memastikan seluruh anggota memenuhi standar RSPO atau kontrol kualitas internal - KUD Makarti yang harus aktif mengerjakan” sambung Tohir lagi. Kami semua mengangguk, memang tidak mudah bagi generasi kedua pekebun untuk menggerakan pekebun senior untuk melakukan perubahan. Terlebih lagi seluruh kegiatan atas dasar gotong royong.

Untuk biaya audit ada RSPO Smallhoder Support Fund (RSSF) yang dapat menolong KUD Makarti. SNV akan membantu menuliskan usulan proposalnya. “Pemenuhan aspek legalitas kami bantu juga untuk berkoordinasi dengan instansi pemerintah terkait di Sengeti” sambung Tohir. Kami semua merasa sudah siap untuk memulai proses pemenuhan standar RSPO meskipun inisiasi berasal dari generasi kedua pekebun.

“Kami akan mulai dengan sosialisasi RSPO kepada seluruh anggota KUD Makarti” ujar Sufyan. Memang, sosialisasi dan berkomunikasi dengan anggota koperasi, untuk meyakinkan mereka mau bergabung dengan kelompok sertifikasi tidaklah mudah. “Apa untungnya untuk kami” itu merupakan merupakan pertanyaan sebagian besar anggota koperasi.

Menggerakan pengurus Internal Control System (ICS) untuk bekerja royongan dan meyakinkan anggota koperasi untuk bergabung kelompok sertifikasi sama menantangnya. Kembali, Sufyan harus memutar otak dan menguji strategi untuk menghadapi itu semua. Karena waktu terus berjalan dan rodapun harus berputar, maju terus tidak boleh ragu, itu prinsip untuk menarik gerbong besar berjalan menuju perubahan.  

Selanjutnya seperti biasa, SNV menggunakan jurus magic three pelatihan penyadar tahuan (awareness) lalu pendampingan penyerapan (diffusion) dan penerapan (adoption). Praktek perkebunan yang baik dengan metode High Impact Training (pelatihan dengan dampak tinggi), Kawasan bernilai konservasi tinggi, lalu penilaian dampak sosial ditambah lagi pembentukan tim unit semprot (tim yang mampu menggunakan bahan kimia secara aman). Seluruh proses perubahan ini akan selalu mengajak pelibatan aktif pengurus ICS KUD Makarti sebagai sarana penggemblengan agar mempercepat proses adopsi.  

Setelah dilakukan pemeriksaan internal terhadap seluruh anggota koperasi dan dirasa siap, akhirnya pengurus ICS Makarti memberanikan diri untuk mengontak badan sertifikasi British Standard International (BSI) untuk melaksanakan pemeriksaan standar RSPO petaniswadaya, lalu ditetapkan tanggal pemeriksaan. “Mulai tanggal 7 sampai 9 Januari 2020 kita akan diperiksa” ujar Sufyan seraya menunjukkan surat elektronik dari BSI. “Cuman Adhe ada halangan tidak bisa mendampingi pemeriksaan” sambung Tohir. Kami semua terdiam, persiapan harus digesa, waktu tersisa hanya sedikit.

“Kita minta bantuan Rudi Zariansyah biar dia ikut terlibat persiapan” timpal saya. “Boleh juga tuh” sambung Tohir. Rudi merupakan petugas lapangan SNV yang berkantor di Kabupaten Banyu Asin Sumatera Selatan. Jarak antara kantornya dengan KUD Makarti sekitar 10 jam perjalanan memakai kendaraan roda empat. Setelah kami menyepakati, Rudi akan tiba di KUD Makarti untuk membantu persiapan dan audit.

Hari pelaksanaan auditpun tiba, seperti biasa seluruh pengurus ICS sudah siap menanti kehadiran tim pemeriksa. Ada 3 penilai melaksanakan  tugasnya. Seluruh pemeriksa memiliki kekhususan masing-masing, dengan acuan indikator yang tertulis di standar RSPO, pemeriksa mengukur proses pelaksanaan praktek berkelanjutan yang sudah dilaksanakan oleh anggota Makarti.

Hari pertama, pemeriksaan seluruh dokumen. Lalu hari kedua penilaian ke kebun yang terpilih secara acak, dan hari ketiga pemeriksaan yang masih kurang dan penutupan. Runutan kegiatan pemeriksaan yang harus dihadapi oleh pengurus ICS cukup menguras fisik, pikiran dan mental mereka.

“Ya ampun ada 4 temuan ketidak sesuaian mayor kemaren” Sergah Rudi lesu.”Seorang pekebun yang terpilih diperiksa belum melengkapi penggunaan bahan kimia sesuai prosedur” sambung Tohir lagi. Padahal sesuai hasil pemeriksaan internal oleh ICS, temuan itu harus sudah diperbaiki karena memang diminta manajer kelompok.

Akhirnya rapat penutupan dilaksanakan, hasilnya adalah BSI harus kembali melakukan penilaian ulang (verifikasi). “Jadi kami belum lulus?” Tanya Sufyan getir. “Belum, kami harus lihat tindakan perbaikan atas temuan kemaren”jawab petugas pemeriksa. Wuuih, tugas Sufyan belum berakhir, sebagai orang muda generasi kedua pekebun dan sekarang harus memandu para senior untuk kembali bekerja royongan.

Kepalang basah nyebur sekalian, guman Sufyan.”Kita maju terus sertifikat harus dapat, tinggal selangkah lagi” teriak Sufyan di depan rapat evaluasi pengurus ICS seraya mengepalkan tinjunya. BSI akan melakukan pemeriksaan ulangan dengan tanggal 12 dan 13 Februari 2020 dan KUD Makarti harus siap.

Mempersiapkan pemeriksaan ulang seperti menghadapi ujian ulang karena nilai belum mencukupi. Dikala fisik dan mental sudah terkuras untuk mempersiapkan pemeriksaan pertama. Sekarang setrum tenaga dan motivasi pengurus ICS harus di isi ulang supaya energi kembali terang benderang.

Tohir dan Rudi saya tugaskan untuk ke Sumatera Selatan, kembali mendampingi pekebun disana. Adhe sudah kembali siap bertugas, sehingga pada saat pemeriksaan ulangan hanya dia sendiri yang akan mendampingi. Akan tetapi kali ini pengurus ICS KUD Makarti sudah lebih dari siap untuk menghadapi pemeriksaan ini.

Seperti yang sudah dijanjikan, hanya seorang petugas pemeriksa dari BSI yang bertugas. Kali ini pengurus ICS lebih siaga dan bergerak lebih cepat. Runutan pemeriksaan dilalui dengan tegar dan sabar meskipun mengulang terasa lebih berat bebannya.

Hari pertama dokumen dan pemeriksaan temuan pemeriksaan pertama, lalu hari kedua wawancara dan penutupan. “Hasilnya bagaimana Dhe?” tanya Tohir dan Rudi penasaran.”Alhamdulillah, temuan pemeriksaan yang pertama dulu sudah berhasil di perbaiki” jawab Adhe ”KUD Makarti berhak mendapatkan sertifikat RSPO”.

Waah leganya, perjuangan generasi kedua pekebun di desa Sido Mukti berbuah hasil. Meskipun jalannya berliku namun tekad dan motivasi dapat mengalahkan terjalnya jalan untuk merubah praktek pekebun dari praktek konvensional menjadi berkelanjutan sesuai dengan standar RSPO. Kelulusan pemeriksaan dari badan sertifikasi independent adalah sebuah bukti nyata.

“Perjuangan belum berakhir teman-teman” ujar saya di hadapan Adhe, Tohir dan Rudi “Ini baru permulaan saja, KUD Makarti harus mampu mempertahan praktek berkelanjutan mereka kedepannya”. Tantangan utama saat ini sertifikat RSPO harus segera laku terjual supaya jerih payah pengurus ICS segera terlunasi. Namun kami tidak khawatir dengan kemampuan ICS KUD Makarti, mereka sudah membuktikan tanpa bantuan penuh dari para pendamping, pengurus ICS mampu berusaha secara mandiri untuk mempersiapkan dan menghadapi pemenuhan standar dan pemeriksaan sertifikasi RSPO. Selamat KUD Makarti!

0 Komentar:

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda